Suatu ketika, sore hari di sebuah lokasi perkantoran di Jakarta. Saya ngobrol dengan seorang teman kantor. Seminggu sudah saya berada di kantor tersebut untuk melaksanakan Kerja Praktek (KP). Teman kantor tersebut sudah berumur, dan pembicaraan tersebut lebih tepat dikatakan sebagai pembicaraan ayah-dan-anak.
Sambil menghabiskan batang Malboro merah, saya mendengarkan cerita beliau mengenai pengalaman-pengalaman kerjanya. Mulai kerja di perusahaan minyak, life assurance, manufacturing, sampai minning. Dari negara A sampai I. Dari pelosok Kalimantan sampai Jakarta. Dari staff biasa sampai manager. Sungguh kaya pengalaman beliau.
Beliau kemudian bertanya kepada saya, “Mas Megan sudah ada gambaran apa yang dilakukan setelah lulus?” Kemudian saya jawab dengan mantab, “Sudah Pak, saya pengen nglanjutin kuliah S2, kalau bisa sih keluar negeri dan gratis :p”
Mendengar jawaban saya, kemudian beliau melanjutkan ceritanya. Menurut beliau, kita harus mencari pengalaman sebanyak mungkin. Karena nantinya dalam dunia kerja, pengalaman lebih berperan daripada gelar yang kita sandang. Pengalaman tersebut tentu saja kita dapatkan selama kita bekerja dan bertemu banyak orang. Sehingga beliau memberi tips, agar selalu menggali ilmu dari orang-orang yang sudah berpengalaman.
Kita tidak perlu malu bertanya kepada orang yang sudah berpengalaman. Menurut beliau, ilmu yang dimiliki oleh orang yang pandai dan berpengalaman, harus ditransfer secara ‘cuma-cuma’ alias gratis kepada siapa pun yang membutuhkan. Walaupun tentu saja ada beberapa orang yang berpandangan bahwa ilmu itu berharga mahal, karena mereka mendapatkan ilmu setelah bersekolah dan mendapatkan gelar, membutuhkan dana dan pengorbanan yang banyak.
Mendengar nasihat beliau tersebut, saya semakin tertarik menggali pengalaman beliau. Kemudian saya pun mengajukan pertanyaan, “Pak, bapak sendiri di sini sudah lama? Koq saya perhatikan banyak orang-orang yang sudah lama dan betah bertahun-tahun di perusahaan ini? Koq ndak pindah, misal nyari di perusahaan yang gajinya lebih gedhe?”
Kemudian beliau menjawab bahwa orang seumuran beliau, saya belum tahu apakah beliau sudah punya cucu, aktif bekerja bukan atas dasar ambisi lagi. Namun atas dasar kepuasan diri. Beliau bercerita bahwa beliau sudah pernah menjabat sebagai manager dengan penghasilan yang berkibar-kibar. Namun karena beliau tidak mendapatkan kepuasan hati, beliau lebih memilih pindah.
Menurut beliau, kita harus happy dalam menjalankan sesuatu, termasuk dalam pekerjaan. Sehingga kita mendapatkan kepuasan hati dalam bekerja. Sebagai anak muda memang kita masih ambisius, ingin punya penghasilan besar, mobil mewah, rumah mewah, hal itu wajar. Namun suatu saat anda akan sampai pada suatu titik dimana anda merasa ambisi tidak lagi penting. Anda akan menetap dan nyaman degan kondisi yang ada, walaupun hal itu bertentangan dengan ambisi anda. “Silahkan buktikan Mas Megan, yang saya katakan ini bo’ong atau endak”.
Pembicaraan sore itu cukup membuka wawasan saya mengenai dunia kerja. Waktu tiga bulan ini akan saya gunakan untuk menggali lebih banyak lagi ilmu dari orang-orang berpengalaman ini. Saya akan selalu ingat perkataan beliau, dan suatu saat nanti akan saya buktikan.
Tags: pengalaman kerja




March 13th, 2010 at 7:46 pm
eaa, cocok dengan saya ini,
yg penting pengalaman, gelar gak penting,
*pembelaan
haha..
May 6th, 2010 at 10:38 pm
hehe.. gimana usahamu sal?
Moga makin berkembang yak!
August 13th, 2010 at 7:41 pm
lama ga buka blog ni..hehe
gud lak yaa bwat tes tahap kedua nya..
wujudkan mimpimu jd kenyataan…
aq doain dr sini aja ya..