Hmm.. tunggu dulu, pasti sebentar lagi rusuh… satu menit.. dua menit.. lho.. koq tertib ya?
Luar biasa.. malam ini, MU, Memang mUantab, memang benar-benar mantab. Tim berjuluk Setan Merah ini berhasil melibas seteru abadinya, Arsenal dengan skor telak 8-2. Mengingat Arsenal bukan tim kacangan yang baru masuk ke divisi Premier Liga Inggris, kemenangan di pertandingan ini adalah sebuah keberhasilan yang patut diacungi jempol.
Well… walaupun saya masih melihat celah yang harus diperbaiki di lini belakang MU. Kecanggihan dan pengalaman sang pelatihlah yang dapat ‘menyembunyikan’ kekurangan lini belakang dengan permainan menyerang yang apik. Pertahanan terbaik adalah dengan menyerang (a best defense is a good offence), mengambil sebuah strategi yang digunakan oleh Mao Zedong, Machiavelli dan Sun Tzu. Hormat saya pada sang arsitek, Sir Alex Ferguson. Menurut pandangan saya, seorang fans MU sejak 1999, Mr. Fergie ini berhasil karena tegas, sabar, dan belajar dari pengalaman. Tegas.. sebut saja Beckham dan Cristiano Ronaldo. Sabar.. musim-musim peralihan dari class of 90 ke pemain-pemain muda. Belajar dari pengalaman.. mari kita lihat, semoga ada pertandingan MU vs Barcelona lagi.
Kali ini saya tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai pertandingan malam ini maupun sejarah MU. Baca saja di kompas.com atau detik.com. Fokus tulisan saya adalah pada sikap penonton dan pemain di pertandingan tersebut. “Arsenal gitu loh.. tim gue bangettt.. bisa kalah 8-2 dari MU, mending cegat terus habisin aja tuh supporter MU, gilaaa.. kesel banget guwehh..”, mungkin seperti itu isi hati sebagian besar supporter Arsenal, dengan catatan… pertandingannya di Indonesia loh yaa… Tim gede lawan tim gede, skornya babak belur.. supporter dan bahkan pemain.
Saya tekankan, saya tidak memperjelek sepak bola di negara Indonesia, tanah air yang sangat saya cintai ini. Namun saya ingin memperlihatkan bahwa pertandingan sepak bola adalah sebuah pertandingan sepak bola. Sebuah tontonan yang menjunjung tinggi fair play, tontonan berharga mahal yang sangat menghibur. Lihat saja bagaimana sikap supporter Arsenal. Dapat dipastikan kecewa berat, ini terlihat dari raut wajah kesal sembari kedua tangan ditaruh di atas ubun-ubun. Hmm.. tunggu dulu, pasti sebentar lagi rusuh… satu menit.. dua menit.. kemudian peluit panjang dibunyikan sang wasit, Mr. Howard Webb. Para pemain saling bersalaman. Wasit dan official pertandingan berkumpul di lingkaran tengah sambil disalami oleh pemain. Mr. Fergie and Arsene Wenger saling bersalaman sambil keduanya tersenyum. Bahkan kiper Arsenal, tersenyum dan memberikan salam kepada Wayne Rooney yang telah membobol gawangnya 3 kali. Lho.. koq… tertib ya..?
It’s just a game. Salut kepada pemain Arsenal, walaupun mereka kalah telak dari seteru abadi-nya, mereka menyempatkan diri untuk mendatangi tribun supporter mereka. Tidak lain adalah untuk memberikan salam dan applause kepada supporter mereka yang setia. Supporter pun balik memberikan applause ke pemain yang telah memberikan suguhan tontonan yang menghibur. Sekali lagi… It’s just a game…
Well… itu tadi di Inggris (gaya bicara saya koq jadi ikut-ikutan orang Inggris ya.. hehe..). Saya tidak bisa memberikan pernyataan apa sebab pertandingan sepak bola menjadi sebuah akhir pekan yang menarik. Mungkin karena orang-orang Inggis well educated? Mereka sudah paham mengenai game dan fair play? Ataukah badan sepak bola Inggris (FA) yang sangat berhasil meramu peraturan sehingga menciptakan iklim pertandingan yang sangat bagus? Bisa jadi…
Dari pada saya dicap sok tau gara-gara mengajukan pertanyaan seperti ini: “Kapan ya sepak bola Indonesia bisa seperti liga Inggris?” Lebih baik saya bermimpi seperti ini: “Saya sedang menonton pertandingan sepak bola yang sangat entertaining, antara PSIM Yogyakarta vs Persija Jakarta di stadion Mandala Krida” Mimpi boleh kan? Gratis koq.. hehehe..




Leave a Reply